by

Masjid Joglo PC Lesbumi, Jadi Tempat Rutinan Pengajian Kitab Karya Kiai Sholeh Darat

nukabkediri.or.id – Adzan Isyak berkumandang menerobos derasnya suara air hujan yang tidak kunjung  reda sejak Rabu malam (27/1). Malam itu seakan langit tidak ingin melewatkan suasana penuh berkah karena bersamaan dengan rutinan pengajian Kitab Lathoifut Thoharoh Wa Asrorus Sholat, karya Kiai  Sholeh Darat.

 

Kegiatan pengajian  yang diselenggarakan PC. Lesbumi Kabupaten Kediri dan dibacakan oleh Kiai Nadiren. Pertemuan kali ini memasuko  edisi ke- 5 yang rutin digelar di  Masjid Joglo Rahmatan wa Salaman, Dusun Cangkring Desa Titik Kecamatan Semen Kediri.

 

 

Selepas Sholat Isyak rintik hujan sedikit mereda. Grub rebana Shohibul Badriyah. Janti Wates yang dipimpin Gus Badrus mulai dilantunkan  sembari menunggu jamaah lainnya datang.

 

Irama syahdu,  petikan keybord dan rebana mengiringi vokalis yang suaranya mampu  melengking tinggi. Sementara suara rintik-rintik hujan diluar masjid berpadu dengan indahnya   musik yang dimainkan , sekaligus  membawa berkah tanaman padi di sekililing masjid.

 

 

 

Tak ketinggalan  katak-katak juga bersahutan di luar masjid seakan juga ikut bersholawat. Satu  persatu jamaah mulai  berdatangan dengan menerobos rintik hujan.

 

Aktifitas persiapan ngaji beragam ada bapak-bapak yang merapikan jas hujannya, ada ibu-ibu yang menyiapkan teh hangat untuk jamaah. Sebagian mulai mengambil posisi tempat duduk di dalam masjid.

 

Masjid di dataran tinggi ini juga menyuguhkan pemandangan  Kota Kediri yang penuh gemerlap lampu.

Abu Muslich, Ketua PC Lesbumi Kabupaten Kediri kemudian membuka acara ngaji rutin Kitab Lathoifut Thoharoh Wa Asrorus Sholat, karya Mbah Sholaeh Darat dengan terlebih dahulu mempersilahkan Mbah Hamdan memimpin tahlil mengawali ngaji.

“Alhamdulillah malam hari ini kita semua bisa hadir di rutinan ngaji Kitab Lathoifut Thoharoh Wa Asrorus Sholat, karya Mbah Sholeh Darat ini walau pun kondisi hujan”,kata  H  Abu Muslih yang akrab dipanggil Mas Abu mengawali acara.

Mbah Hamdan yang juga pedekar Pagar Nusa kemudian memimpin tahlil sebelum ngaji dimulai. Sampai diujung  akhir bacaan doa tahlil hujan pun mulai  mereda sampai pada waktunya Ngaji Kitab Lathoifut Thoharoh Wa Asrorus Sholat  karya Mbah Sholaeh Darat dimulai.

“Pas Ngaji mulai, hujan kok ya reda, alhamdulillah meski yang datang jamaahnya berkurang mungkin karena hujan ngaji tetep kita laksanakan. Orang sedikit dan orang banyak itu sama saja ngajinya, suara  bacaan yang dikeluarkan juga sama, jadi ya baiknya ya tetap ngaji, Silahkan dibuka halaman 32 baris dua lanjutan sebelumnya”, Kiai Nadiren mengawali ggajinya.

“Hukum umum dhohir menunjukan batin, Dengan kesucian batin dan dhohir ini kita diperintahkan sholat. Whudu itu membersihkan dhohir batin”, Kiai Nadhirin atau yang akrab dikenal Mbah Rin.

Ditambahkan , mandi juga mensucikan dhohir batin “Karena dhohir itu juga mencerminkan batin, Maka dijelaskan dalam kitab ini.Bahwa dhohir yang mencerminkan batin  juga termasuk dengan gerakan sholat, di sini bukan hanya gerakan dhohir badan saja, tapi ini juga menggerakan batin. Rukuk yang dilakukan orang sholat itu juga secara batin, sujud secara batin yang berhadapan raja di raja, kepala yang kita anggap paling mulia tinggi kita tempelkan di lantai dihapadan Allah SWT,” tandasnya.

Dijelaskan dhohir ini laku syariat, ruhani ini ada amal makrifat, Adapun kita mau bersuci atau tidak itu atas pertolongan Allah.  Tetapi wajib bagi hamba untuk bersungguh sungguh, Ibarat kita sakit kita wajib berusaha sehat misalnya beli obat atau iktiar ke kiai minta omben omben (Air yang didoakan kiai). Dalam kitab yang disampaikan Mbah Rin bahwa manusia itu wajib melakukan  ijtihad, Maka kalau kita wudhu harus sungguh-sungguh, agar pertolongan Allah itu turun.

“Kalau engkau bersungguh-sungguh mencari Allah. Maka aku allah akan juga menemuimu, ketahuilah bahwa wudhu itu secara batin adalah membersihkan sifat tercela atau madzmumah.  Dan membersihkan sifat hewan yang ada di diri manusia, dan wudhu secara batin juga membuang  sifat syaitoniyah yang ada di jiwa manusia,” pungkas Mbah Rien mengakhiri pengajian (har/geb)

 

Penulis : Hartono Basingkem

Editor : Imam Mubarok

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Umpan Berita