by

Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

NUkabkediri.or.id – Inilah keutamaan 10 hari  terakhir Bulan Ramadhan

 

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم ” كان إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وشد مئزره ” البخاري (1920) ومسلم (1174) زاد مسلم وجَدَّ وشد مئزره .

 

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam jika  memasuki sepuluh terkahir bulan Ramadhan menghidupkan malamnya ( dengan memperbanyak ibadah), membangunkan keluarganya dan mengencangkan sarungnya. (HR. Al Bukhari (1920) dan Muslim (1174) dan Muslim menambahkan riwayat : Beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya.

 

 

عن أم المؤمنين عائشةَ رضي الله عنها زوجِ النبي صلى الله عليه وسلم أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم كان يعتكفُ العشرَ الأواخر من رمضان حتى توفاه الله، ثم اعتكف أزواجه من بعده؛ (رواه البخاري 2/ 713 (1922)، ومسلم 2/ 831 (1172))

Dari Ummul Mu’mnin ‘Ausyah Radhiyallahu ‘Anhu Istri Nabi Shallalllahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau Shallalllahu ‘Alaihi Wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai beliau wafat, setelah itu para istri beliau beri’tikaf. (HR. Al Bukhari 2/ 713 (1922) dan Muslim 2/ 831 (1172))

Nabi Shallalllahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

من مشى فى حاجة اخيه كان خيرا له من اعتكاف عشر سنين ومن اعتكف يوما ابتغاء وجه الله عزوجل جعل الله بينه وبين النار ثلاث خنادق كل خندق ابعد مما بين الخافقين
(رواه الطبراني, المعجم الاوسط : 7322)

“ Barangsiapa yang berjalan di dalam membantu keperluan saudara muslimnnya, maka itu lebih baik baginya dari I’tikaf sepuluh tahun lamanya. Dan barangsiapa yang beri’tikaf satu hari karena mengharap ridha Allah ‘Azza Wa Jalla, maka Allah menjadikan antara dia dan api neraka jarak sejauh tiga parit. Setiap parit dari parit lainnya jaraknya sejauh langit dan bumi “ (HR. Ath Thabarani, Al -Mu’jam Al-Awsath : 7322)

Nabi Shallalllahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

من اعتكف عشرا فى رمضان كان كحجتين وعمرتين (رواه البيهقي, شعب الايمان ۳: ۴۲۵)

Barangsiapa yang beri’tikaf sepuluh hari di bulan Ramadhan, maka hal itu senilai pahala dua haji dan dua umrah “ (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman (3 : 425))

 

 

Amalan di 10 Hari Terakhir Ramadhan :

1. I’tikaf di Masjid
I’tikaf dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan ketika masuk bulan Ramadhan.
Sari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata :
أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri beliau ber-i’tikaf setelah itu.” (HR. Al-Bukhari : 2026 dan Muslim : 1172)

2. Qiyamul Lail
Qiyamul Lail ini berupa mengerjakan shalat malam dan shalat-shalat sunnah lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berdiri (untuk mengerjakan shalat) pada lailatul qadr karena keimanan dan hal mengharap pahala, maka akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari : 1901)

3. Membaca Alquran
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetorkan bacaan Al Qur’an kepada Jibril ketika Ramadhan, sebagaimana hadits dari Fathimah radhiyallahu ‘anha,
أنّ جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرةً وأنّه عارضه في عام وفاته مرتين
‘Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam biasanya menyetorkan Alquran dengan Rasulullah sekali dalam setiap tahun. Akan tetapi, ia menyetorkan Alquran dua kali di tahun wafatnya Rasulullah.’ (HR. Muslim : 2450)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ جِبْرِيْلَ َعَلْيْهِ السَّلَام ُكَانَ يَلْقَاهُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخُ فَيعْرضُ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيْهِ جِبْرِيْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia paling dermawan dengan kebaikan dan beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril menemui beliau setiap tahun di bulan Ramadhan hingga berlalulah bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetorkan bacaan Alquran kepada Jibril. Apabila beliau berjumpa dengan Jibril, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dengan kebajikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari : 3220)

4. Memperbanyak Doa
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi : 3513 dan Ibnu Majah : 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih))
Ibnu Rajab rahimahullah memberi penjelasan menarik,
و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر
“Sesungguhnya perintah memohon al-‘afwu pada malam lailatul qadar setelah kita bersungguh-sungguh beramal di dalamnya dan di sepuluh hari terakhir Ramadhan, ini semua agar kita tahu bahwa orang yang arif (bijak) ketika sungguh-sungguh dalam beramal kemudian ia tidak melihat amalan yang ia lakukan itu sempurna dari sisi amalan, keadaan, maupun ucapan. Karenanya ia meminta kepada Allah al-‘afwu (pemaafan) seperti keadaan seseorang yang berbuat dosa dan merasa penuh kekurangan.”
Yahya bin Mu’adz pernah berkata,
ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو
“Bukanlah orang yang arif (bijak) jika ia tidak pernah mengharap pemaafan (penghapusan dosa) dari Allah.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 362-363).

5. Dan amal-amal kebaikan lainnya.

 

Penulis : Agus Dafid Fuadi – Ketua Aswaja NU Center Kabupaten Kediri

Foto : Istimewa | Suara.com

Editor : Imam Mubarok

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Umpan Berita